Pembelian Impulsif, jauhi….

Pembelian impulsif adalah cara belanja yang tidak direncanakan. Tanpa sadar kita melakukan pembelian yang kebanyakan, akan disesali setelahnya. Pembelanjaan seperti ini sering kali merusak anggaran yang telah kita miliki. Belanja dengan kesadaran adalah kebalikannya, dan hemat adalah kata kunci yang paling tepat bagi semua orang yang ingin mengatur keuangannya. Sebagian orang agak segan mendengar kata hemat dan memiliki persepsi bahwa hemat sama dengan pelit. Sebenarnya hemat  tidak sama dengan pelit. Contohnya begini, pelit jika Anda harus mengeluarkan 10 tetapi hanya mengeluarkan 7. Sedangkan hemat adalah tetap mengeluarkan 10 jika memang harus 10, dan tidak mengeluarkan jika memang tidak perlu mengeluarkan uang. Jadi tidak aneh jika seseorang yang mengeluarkan uang cukup besar untuk berlibur keluar negeri setiap tahun tetapi tidak berlangganan TV kabel karena tidak pernah punya waktu untuk menonton TV dan memperoleh berita lewat internet tanpa harus berlangganan koran.

Jadi, berhemat adalah Anda memilih mengeluarkan uang untuk hal-hal yang Anda anggap perlu serta tidak mengeluarkan uang untuk beberapa hal yang Anda anggap tidak perlu. Dengan demikian, Anda sadar dan memilih pengeluaran Anda, berarti Anda tidak melakukan pembelian impulsif atau pembelian yang tidak direncanakan. Berbeda dengan cara kebanyakan orang menghabiskan uangnya.

Umumnya orang-orang cenderung membelanjakan uangnya secara impulsif atau tidak direncanakan. Penelitian dibidang marketing memperkuat kenyataan ini, bahwa 55% pembelanjaan dilakukan secara impulsif. Para pemasar mendapatkan banyak keuntungan dari cara belanja seperti ini. Berbagai cara dilakukan oleh pemasar agar konsumen (baca=kita) melakukan pembelian impulsif ini. Sadarkah Anda, bahwa  kita  membeli sesuatu karena kita diharapkan untuk itu, Kita menghabiskan uang untuk memiliki apa yang orang lain juga miliki. Kita  mendaftar untuk keanggotaan gym tetapi kita tidak pernah menggunakan, Kita berlangganan majalah/koran/TV kabel padahal kita tidak pernah membaca koran atau menonton TV, Kita melakukan pembelian impulsif  di toko, supermarket – atau bahkan pada barang-barang besar, seperti komputer dan motor atau mobil. Sebagian besar orang menghabiskan uang tanpa berpikir.

Lain halnya jika melakukan pengeluaran secara sadar, Anda punya kesempatan untuk mengevaluasi setiap pembelian. Anda memilih untuk apa rupiah yang Anda keluarkan. Ingat ya, kita akan dimintai pertanggung jaawaban kelak atas semua belanjaan kita. ingat hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :

” ……….tentang hartanya, dari mana ia hasilkan dan untuk apa ia infakkan ………..”

Jika saya menyatakan bahwa perjalanan Umroh atau berwisata (bukan berbelanja) kenegara Eropa  adalah hal yang sangat penting buat saya dan memutuskan berhenti berlangganan TV kabel yang jarang atau hampir tidak pernah saya nikmati atau menunda mengganti mobil saya yang sudah berusia 5 tahun, sehingga dananya dapat dipindahkan agar perjalanan impian saya dapat terwujud, maka itu adalah pembelian secara sadar, itulah berhemat.

Bagaimana caranya untuk terus  melakukan pembelian secara sadar, bukan pembelian impulsif.

Saya telah belajar untuk bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan sebelum saya membeli:

  • Apakah saya akan menggunakan barang/jasa ini? Saya sering tergoda juga oleh gadget terbaru dan beberapa asesories fashion yang cukup trendi. Sepertinya menyenangkan, tapi apakah itu sesuatu yang saya benar-benar akan gunakan? Contohnya membeli tas tangan warna orange, ketika masih ditoko tampak segar dan sesuai mood saya saat itu, tetapi saat sudah dimiliki, saya kesulitan memadu madankan dengan pakaian saya yang kebanyakan berwarna biru. Alhasil tas orange itu lebih sering tersimpan dari pada saya gunakan. Itu contoh hasil membeli secara impulsive.
  • Mungkinkah saya mendapatkan barang/jasa ini lebih murah – atau gratis – ditempat lain? Dapatkah saya meminjam dari teman? Dapatkah saya membelinya ditoko barang bekas? Jika itu sesuatu yang harus saya beli yang baru, adakah tempat lain yang menjual dengan harga yang lebih rendah tapi berkualitas sama?
  • Dapatkah saya menunggu untuk membeli ini? Mengapa saya perlu membeli hari ini? Saya telah menemukan bahwa saya dapat melakukan banyak hal untuk mengontrol pengeluaran impulsive dengan menggunakan aturan 30 hari: Jika saya ingin sesuatu, saya menuliskannya; jika saya masih ingin 30 hari kemudian, saya mempertimbangkan membelinya. Dengan menunggu, saya  memberi  kesempatan untuk mendinginkan emosi membeli secara impulsif.
  • Mengapa saya membeli ini? Apakah ini memenuhi kebutuhan? Atau itu hanya sesuatu yang saya inginkan?
  • Apakah ada sesuatu yang lain dimana akan lebih menyenangkan bagi saya untuk menghabiskan uang?  Pertanyaan terakhir ini telah menjadi motivator kuat bagi saya dalam beberapa tahun terakhir terutama dalam menjalankan pengelolaan uang pribadi dan keluarga. Sekarang, saya biasanya ingin menyimpan uang saya lebih untuk melakukan perjalanan. Dengan mengingatkan diri saya tentang prioritas saya, saya mampu menghindari banyak pengeluaran yang tidak perlu.

Sekali lagi, tidak semua pengeluaran saya benar-benar pengeluaran secara sadar selama beberapa tahun terakhir. Saya masih juga sesekali  melakukan pembelian tanpa banyak berpikir. Tapi bila memungkinkan, saya akan menganalisis semua pembelian saya.

Belanja secara sadar itu  tidak membatasi; tetapi justru  membebaskan. Ia dapat membantu Anda mengenali kapan pengeluaran Anda benar-benar yang Anda inginkan sesuai dengan nilai-nilai yang Anda anut, dan kapan pengeluaran yang dibuat hanya dari kebiasaan sehingga secara tak sadar melakukan pembelian impulsif.

Daftarkan email Anda
Untuk mendapat info terbaru dari kami
Posted in Perencana Keuangan Syariah, Tips Keuangan Tagged with: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*