Memberi Dengan Hati

Satu hari saya disuguhi sebuah cerita yang tampaknya menyentuh hati, yaitu tentang seorang anak yang menghadiahkan sebuah smartphone untuk ayahnya. Smartphone itu diberikan untuk ayahnya dengan maksud agar mudah berkomunikasi melalui WA atau whatsapp dan mudah memesan taxi bila ingin bepergian menggunakan aplikasi yang bisa diunduh melaui smartphone tersebut. Sebelumnya sang ayah sudah menggunakan handphone yang bukan smartphone sehingga hanya bisa dipakai untuk sms dan menelpon saja.

Ketika smartphone sudah dibeli dan diberikan pada sang ayah, timbullah masalah, karena ayah tidak terbiasa mengetik dengan touchscreen. Kemudian agak sulit mengingat-ingat urutan cara menggunakan applikasi wa tersebut. Meskipun sang anak sudah mengajari ayah untuk menggunakannya, tetapi sungguh sulit mengingat-ingat penggunaan smartphone. Alhasil, beberapa kali sang anak mesti memandunya melalui telpon saat ayah akan menggunakan smartphone itu. Kemudian selama seminggu dua minggu hening tak ada berita yang diketik ayah di wa. Sang anak menelponnya menanyakan mengapa ayah tidak membalas sapaan dan berita yang dikirim lewat wa grup, mereka anak-anaknya jadi khawatir. Ayah menjawab bahwa dia lupa cara menggunakan wa. Agak susah mengingat sesuatu yang baru apalagi berhubungan dengan teknologi, maklumlah ayah usianya sudah hampir 80 tahun, tepatnya 79 tahun.

Saya jadi ingat almarhumah ibu saya yang sangat suka dengan telp jadulnya. Kakak saya membelikan handphone baru yang lebih canggih dan tentu lebih mahal waktu saya mengganti handphone ibu dengan jenis yang tidak jauh berbeda saat handphonenya rusak karena terjatuh. Senangnya bagi saya, ibu tetap setia menggunakan handphone pemberian saya yang harganya tidak mahal sampai akhir hidupnya. Satu saat adik saya bertanya pada ibu mengapa tidak menggunakan handphone dari kakak yang lebih canggih dan keren? kenapa pakai yang dari saya? apakah ibu lebih mencintai saya daripada kakak. Waktu itu ibu menjawab kalo handphone pemberian kakak memang bagus dan keren, tapi ibu tidak bisa menggunakannya, sudah mencoba beberapa kali tapi lupa terus. Kalau pakai handphone dari saya, ibu gak perlu belajar lagi karena mereknya sama dengan hpnya yang rusak, meskipun jenisnya berbeda. Ibu tidak suka mengetik untuk membuat sms. Kalo perlu mengubungi seseorang maka beliau menelpon. Pulsanya boros kan bu? kan repot beli-beli pulsa? tanya adikku. “Kalo pulsanya mau habis ibu telpon saja minta diisi pulsa sama anak-anak ibu gampang kan” Jawab beliau saat itu. Berapa sih kebutuhan pulsa orang tua? berapa banyak penggunaan hpnya dalam sebulan? Tidak banyak tentunya.

Kembali kepada cerita anak yang menghadiahkan smartpone untuk ayahnya, sekilas kita melihat anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya, tapi benarkah demikian, tepatkah pemberian itu? Bukankah jika ayah kesulitan menggunakannya berarti bukan produk yang tepat yang dihadiahkan. Apakah sama merek yang dibeli dengan handphone miliknya yang terdahulu? karena merek yang sama biasanya cara menggunakannya juga tidak jauh berbeda. Bagaimana dengan jaringan internet di smartphone itu, apakah tetap tersambung dan memiliki sambungan yang baik setiap saat? Bisa jadi ayah sudah bisa mengingat cara menggunakan, tetapi saat jaringan internet tidak tersambung maka tidak akan berfungsi aplikasi yang digunakannya.

Ketika kita ingin berbakti pada orang tua, sebaiknya kita memikirkan kemudahan buat mereka. Berikanlah sesuatu dengan hati. Maksudnya jangan asal memberi, penuhi apa kebutuhan dan keinginannya. Orang tua adalah orang yang dulunya selalu memberikan yang terbaik buat kita, betapapun sulitnya akan diusahakannya. Ketika giliran kita mempunyai kesempatan untuk membalas jasanya, gunakan juga hati kita untuk memberikan yang terbaik buatnya. Misalnya, berilah HP yang ramah orang tua. Boleh saja Hp yang canggih tapi mudah penggunaannya. Lebih baik lagi jika kita menanyakan dan memperhatikan apa yang mereka butuhkan bukan apa yang kita butuhkan.

hp

Lho kok yang kita butuhkan?

Ya, karena ingin disebut anak yang memperhatikan orang tua maka kita memberi sesuatu seperti yang biasa kita gunakan, dengan kecanggihan dengan kehebatan, tapi belum tentu yang dibutuhkan atau yang diinginkannya. Jika ingin memudahkan orangtua maka permudahlah hidupnya bukan memperumit. Walahualam

By Shinta Rahmani

Posted in Motivasi Tagged with:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*