Keinginan dan Kebutuhan

sepatuMampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan merupakan hal krusial dalam perencana keuangan. Banyak pakar perencana keuangan yang menekankan perlunya mengetahui yang mana kebutuhan dan keinginan. Keduanya harus jelas dipisahkan, karena percampuran antara kebutuhan dan keinginan sungguh sangat membahayakan pengelolaan keuangan kita. Apa yang dimaksud dengan kebutuhan? Saya mengartikan kebutuhan sebagai sesuatu yang harus dipenuhi, tak bisa ditunda, dan sifatnya wajib. Misalnya, kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan. Diluar yang dasar, masih ada juga kebutuhan hidup lainnya, misalnya, kita memiliki anak yang masih sekolah. Tentu membeli buku, seragam sekolah, tas sekolah adalah sebuah kebutuhan.

Bagaimana dengan keinginan?

Wah kalau yang ini sepertinya tak ada batasnya. Keinginan manusia akan terus bertambah seiring pertambahan kemakmurannya. Makin besar penghasilan maka akan makin besar pula pengeluaran. Keinginan lebih kepada pemenuhan gaya hidup (life style).

Contoh tentang ini, misalnya, waktu kita akan membeli sepatu sekolah anak kita. Umumnya sepatu yang diperbolehkan adalah sepatu warna hitam. Bentuk dan mereknya boleh apa saja asalkan hitam. Jadi sepatu hitam adalah kebutuhan anak untuk pergi kesekolah.

Saat kita pergi ketoko sepatu, maka kita dihadapkan dengan banyak pilihan merek dan tentu juga harga. Tentu saja pilihan yang beragam memudahkan kita sekaligus menyusahkan. Disaat memilih-milih itulah godaan mulai datang menghampiri dan membuat keinginan mendominasi otak kita. Si kecil tampak lebih keren kalau pakai sepatu bermerek buatan luar negri, bukankah tidak ada larangan dari sekolahnya, lagipula bentuknya lebih bagus dan lebih ringan dibanding merek lokal. Oh ya, tentu saja harganya bisa berlipat kali lebih mahal.

Sampai tahap ini kebutuhan sudah mulai berubah bentuk menjadi keinginan. Sampai didepan toko sepatu, sesungguhnya kita akan memenuhi kebutuhan anak. Bagitu kita mulai melirik merek, seketika kebutuhan itu sudah menjadi keinginan. Kita sering berdalih dengan pernyataan, barang ini lebih awet, lebih sehat, lebih ergonomis dll.

Tambahan lagi, kita akan tergoda untuk membeli lebih banyak jika ada tawaran diskon, beli 2 diskon 30% misalnya. Kita mulai berfantasi bahwa sikecil sesungguhnya perlu 2(dua) pasang sepatu. Sepasang dipakai dan sepasang untuk cadangan, kalau-kalau kehujanan dan sepatunya basah!..

Ya itulah keinginan. Jika dituruti tak akan ada habisnya. Bukan hanya sekedar sepatu sekolah tapi begitu banyak keinginan manusia, setiap saat selalu muncul keinginan baru, tak akan pernah ada habisnya. Nabi Muhammad SAW telah memberi peringatan tentang ini

Manusia apabila diberi satu gunung emas, maka ia akan meminta gunung emas yang kedua, apabila diberi gunung emas kedua, ia minta gunung emas yang ketiga. Sesungguhnya manusia itu tidak akan pernah puas, hingga maut yang menghentikannya-HR. Bukhari

Bagaimana menghindarinya?  Mudah saja, buatkan anggarannya.

Ya, anggaran akan membimbing kita untuk menghindari pembelian yang bukan merupakan kebutuhan. Saat kita membutuhkan sesuatu, segera buatkan anggaran untuk pembelian barang tersebut, sehingga saat Anda harus berhadapan dengan banyak pilihan, anggaran yang telah dibuat akan membatasi pilihan Anda, sehingga Anda benar-benar memenuhi kebutuhan bukan keinginan.

image : sepatu.com

Daftarkan email Anda
Untuk mendapat info terbaru dari kami
Posted in Perencana Keuangan Syariah Tagged with: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*