Besar Tiang Daripada Pasak

bpdtSaya salah ketik dengan menuliskan judul di atas?

Tidak, Judul tulisan ini memang demikian. Kita mengenal suatu peribahasa yang berbunyi “Besar pasak daripada tiang” untuk menggambarkan orang yang membelanjakan uangnya melebihi penghasilannya. Nah, judul tulisan ini adalah “Besar tiang dari pada pasak” artinya penghasilan melebihi uang yang dibelanjakan. Ini merupakan syarat utama dan terpenting untuk melakukan perencanaan keuangan.

Tapi tunggu dulu, pasti banyak yang protes, begini protesnya :

  • Bagaimana kalau penghasilan saya pas-pasan, cuma cukup untuk hidup?
  • Perencanaan keuangan cuma buat orang yang uangnya banyak, bukan buat saya.
  • Boro-boro nabung, bisa bertahan sampai akhir bulan saja sudah bersyukur.

Hmmm, protes seperti ini sudah biasa saya dengar. Tapi ada hal yang sangat saya yakini, yaitu, jika seseorang sudah berniat untuk melakukan perbaikan, maka halangan apapun akan bisa dilalui. Namun jika seseorang memang belum berniat melakukan perbaikan, maka seribu alasan bisa disodorkan.

Intinya, apakah kita berniat melakukan perbaikan kondisi keuangan kita atau tidak? Sabagai syarat utama dan terpenting, maka harus ada perbedaan antara penghasilan dan pengeluaran, dan tentu saja perbedaan itu harus positif. Artinya tidak boleh pengeluaran melebihi penghasilan, titik.

Perbedaan positif antara penghasilan dan pengeluaran makin besar makin baik. Untuk itu, kita harus tahu seberapa besar pengeluaran selama ini, apakah melebihi penghasilan, masih dibawah penghasilan atau jauuuh dibawah penghasilan.

Cara yang mesti dilakukan tidak lain adalah melihat catatan pengeluaran selama ini. Penghasilan sebulan juga dikurangi  pengeluaran sebulan. Jika hasilnya positif, artinya anda masih berada dijalur yang benar.

 Bagaimana kalau belum ada catatan? Ya segera buat.

Setiap pengeluaran harus dicatat. Catatan yang diperlukan untuk proses perencanaan ini setidaknya 3 bulan, karena kadang ada pengeluaran ekstra dalam tiga bulan tersebut, yang tidak tercantum jika catatan yang kita miliki cuma sebulan. Setelah tahu kondisi penghasilan dan pengeluaran kita, dan tahu besarnya perbedaan antara keduanya, tahap selanjutnya adalah mereview keduanya. Jika penghasilan dirasa kurang maka usahakan untuk mencari tambahan penghasilan, yang halal tentunya. Disisi pengeluaran, pikirkan kembali semua pos pengeluaran, coba kurangi  pos-pos yang masih bisa dihemat. Perhatikan Al Qur’an surat Al-Isra : 26-27 :

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, pemboros-pemboros itu adalah saudara setan; dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”

 Tentu kita tidak ingin bersaudara dengan setan bukan? Bagaimana dengan penghasilan tambahan? Cobalah untuk mencari lagi apa kelebihan diri kita, apakah bisa dipakai untuk menghasilkan uang?

Ini sebagian ide saja, menjadi guru bahasa Inggris, menjadi pelatih olahraga, menjual kue buatan sendiri, menjualkan kue buatan orang lain, membuat tulisan untuk dimuat oleh media komersial seperti Koran, majalah, tabloid,  menjadi pedagang mobil bekas, ikut bisnis MLM, berbisnis online dan masih banyak lagi. Bila kedua hal tersebut dilakukan, maka perbedaan postitif antara keduanya akan membesar, sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk melanjutkan pengelolaan keuangan.

by Shinta Rahmani

Daftarkan email Anda
Untuk mendapat info terbaru dari kami
Posted in Keuangan Syariah, Perencana Keuangan Syariah, Tips Keuangan Tagged with: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*